Saturday, May 1, 2010

TUGAS STATISTIKA TERAPAN


SKALA PENGUKURAN


Nama : Christiwi Yulihandani

No Reg : 08-800-0099

Jurusan/kelas : PGSD S1/ 2008 C

Ada empat tipe skala pengukuran dalam penelitian, yaitu nominal, ordinal, interval, dan ratio.

  1. Nominal

Skala pengukuran nominal untuk mengklasifikasikan obyek, individual atau kelompok, sebagai contoh mengklasifikasikan jenis kelamin, agama, pekerjaan, dan area geografis. Dalam mengidentifikasi hal-hal diatas digunakan angka-angka sebagai symbol. Apabila kita menggunakan skala pengukuran nominal, maka statistic non-parametrik digunakan untuk menganalisis datanya. Hasil analisa dipresentasikan dalam bentuk persentase. Skala nominal merupakan skala yang paling lemah/rendah di antara skala pengukuran yang ada Skala nominal hanya bisa membedakan sesuatu yang bersifat kualitatif, hanya untuk membedakan antar kelompok maupun individu berdasarkan nama (predikat), misalnya: jenis kelamin, agama, warna kulit, pekerjaan dan area geografis. Pemberian angka atau symbol pada skala nominal tidak memiliki maksud kuantitatif hanya menunjukan ada atau tidak adanya atribut atau karakteristikpada obyek yang diukur. Misalnya jenis kelamin diberi kode 1 untuk laki-laki dank ode 2 untuk perempuan. Angka ini hanya berfungsi sebagai label. Skala nominal adalah skala mengklompokkan obyek atau peristiwa dalam berbentuk kategori. Skala nominal diperoleh dari pengukuran nominal yaitu suatu proses mengklasifikasikan obyek-obyek yang berbeda kedalam kategori-kategori berdasarkan beberapa karakteristik tertentu, yaitu kategoridata bersifat mutually eksklusif (setiap obyek hanya memiliki satu kategori) dan kategori data tidak disusun secara logis. Pengukuran dengan skala nominal merupakan tingkat mengatagorikan, memberi nama dan menghitung fakta-fakta dari obyek yang diteliti. Skala nominal akan menghasilkan data yang disebut data nominal atau data diskrit, yaitu data yang diperoleh dari mengkaegorikan , memberi nama dan menghitung fakta-fakta dari obyek yang diobservasi. Sifat skala nominal dimana pada skala ini kita tidak bisa melakukan observasi aritmatika (penjumlahan, pengurangan) karena skala nominal hanya mempersentasikan sebuah karakteristik.

Contoh :

Kita mengklasifikasikan variable jenis kelamin menjadi sebagai berikut : laki-laki kita beri symbol angka 1 dan wanita angka 2. Kita tidak dapat melakukan operasi arimatika dengan angka-angka tersebut, karena angka-angka tersebut hanya menunjukkan keberadaan atau ketidakadanya karakteristik tertentu. Jawaban pertanyaan berupa 2 pilihan “ya” atau “tidak” yang bersifat kategorikal dapat diberi symbol angka-angka sebagai berikut: jawaban “ya” diberikan angka 1 dan “tidak” diberi angka 2.

Misalnya lagi untuk agama, kita bisa mengkode 1=islam, 2=Kristen, 3=hindu, 4=budha, dst. Kita bisa menukar angka-angka tersebut, selama suatu karakteristik memiliki angka yang berbeda dengan karakteristik lainnya.

  1. Ordinal

Skala pengukuran ordinal memberikan informasi tentang jumlah relative berbeda yang dimiliki oleh obyek atau individu tertentu. Tingkat pengukuran ini mempunyai informasi skala nominal ditambah dengan sarana peringkat relative tertentu yang memberikan informasi apakah suatu obyek memiliki karakteristik yang lebih atau kurang tetapi bukan berapa banyak kekurangan dan kelebihannya.

Contoh:

Jawaban pertanyaan berupa peringkat misalnya: sangat tidak setuju, tidak setuju, netral, setuju dan sangat setuju dapat diberi symbol angka 1,2,3,4 dan 5. Angka-angka ini hanya merupakan symbol peringkat tidak mengekpresikan jumlah.

Skala oridinal selain membedakan juga menunjukan tingkatan (misalnya: pendidikan, tingkat kepuasan). Skala oridinal ini lebih tinggi darip[ada skala nominal, dan sering disebut dengan skala peringkat. Hal ini karena skala oridinal, lambing-lambang bilangan hasil pengukuran selain menunjukkan pembedaan juga menunjukkan urutan atau tinkatan obyek yang diukur menurut karakteristik tertentu.

Contoh:

Misalnya tingkat kepuasan seseorang terhadap produk. Bisa kita beri angka dengan 5=sangat puas, 4=puas, 3=kurang puas, 2=tidak puas dan 1=sangat tidak puas. Atau misalnya dalam suatu lomba, pemenangnya diberi peringkat 1,2,3 dstnya. Dalam skala ordinal, tidak seprti skala nominal,ketika kita ingin mengganti angka-angkanya, harus dilakuakan secara berurut dari besar ke kecil atau dari kecil ke besar. jadi tidak boleh buat 1=sangat puas, 2=tidak puas, 3=puas, dstnya. Yang boleh adalah 1=sangat puas, 2=puas, 3=kurang puas., dstnya.

Selain itu, yang perlu diperhatikan dari karakteristik skala oridinal adalah meskipun nilainya sudah memiliki batas yang jelas tetapi belum memiliki jarak (selisih). Sebagaimana halnya pada skala nominal, pada skala ordinal kita juga tidak dapat menerapkan operasi matematika standart (aritmatik) seperti pengurangan, penjumlahan, perkalian dan lainnya.

Skala ordinal adalah skala yang menunjukkan perbedaan tingkatan subjek secara kuantitatif. Skala ordinal memiliki karakteristik, yaitu kategori data bersifat mutually eksklusif (setiap obyek hanya memiliki satu kategori dan kategori data tidak disusun secara logis., kategori data disusun berdasarkan urutan logis dan sesuai dengan besarnya karakteristik yang dimiliki. Secara singkat, dapat dikatakan bahwa data ordinal disamping memiliki sifat yang dimiliki data nominal juga menunjukkan kedudukan (tingkatan) subjek dalam suatu kelompok pada suatu variable.

Skala (ukuran) ordinal adalah skala yang merupakan tingkat ukuran kedua, yang berjenjang sesuatu yang terjadi ‘lebih’ atau ‘kurang’ dari yang lainnya. Ukuran ini digunakan untuk mengurutkan objek dari yang terendah hingga tertinggi dan sebaliknya yang berarti peneliti sudah melakukan pengukuran terhadap variable yand diteliti. Contoh : mengukur kejuaraan olah raga, prestasi kerja, senioritas pegawai, tingkat kependidikan dan skala perusahaan.

Contoh :

Skala ordinal ini bersifat peringkat, karakteristik suatu obyek bisa kita klasifikasikan berdasarkan lebih atau kurang. Agar lebih jelasnya bisa saya kasih contoh berikut, misalnya anda di tanya, apakah anda setuju tentang perda merokok ?

Jawaban a (sangat tidak setuju)

Jawaban b (tidak setuju)

Jawaban c ( ragu-ragu)

Jawaban d (setuju)

Jawaban e ( setuju sekali)

Dari jawaban diatas jika kita menggunakan skala ordinal maka (sangat tidak setuju) diberi nilai 1, (tidak stuju) diberi nilai 2, (ragu-ragu) diberi nilai 3, (setuju) diberi nilai 4, (setuju sekali) diberi nilai 5.

  1. Interval

Skala interval mempunyai karakteristik seperti yang dimiliki oleh skala nominal dan ordinal dengan ditambah karakteristik lainnya, yaitu berupa adanya interval yang tetap. Dengan demikian peneliti dapat melihat besarnya perbedaan karakteristik antara satu individu atau obyek dengan lainnya. Skala pengukuran interval benar-benar merupakan angka. Angka-angka yang digunakan dapat dipergunakan dapat dilakukan operasi aritmatika, misalnya dijumlahkan atau dikalikan. Untuk melakukan analisa, Skala pengukuran ini menggunakan statistic parametric.

Contoh :

Jawaban pertanyaan menyangkut frekuensi dalam pertanyaan, misalnya : berapa kali anda melakukan kunjungan ke Jakarta dalam satu bulan ? jawaban : 1 kali, 3 kali, dan 5 kali. Maka angka-angka 1,3 dan 5 merupakan angka sebenarnya dengan menggunakan interval 2.

Skala interval berupa angka kuantitatif namun tidak memiliki nilai nol mutlak (misalnya: tahun, suhu dalam celcius). Skala interval mempunyai karakteristik seperti yang dimiliki oleh skala nominal dan ordinal dengan ditambah karakteristik lain, yaitu berupa adanya interval yang tetap. Dengan demikian skala interval sudah memiliki nilai intrinsic, sudah memiliki jarak, tetapi jaraktersebut belum merupakan kelipatan. Pengertian “ jarak belum merupakan kelipatan “ ini kadang-kadang diartikan bahwa skala interval tidak memiliki nilai nol mutlak. Nol mutlak artinya tidak dianggap ada.

Contoh :

Misalnya pada pengukuran suhu. Kalau ada tiga daerah dengan suhu daerah A = 10oC, daerah B = 15oC dan daerah C=20oC. Kita bisa mengatakan bahwa selisih suhu daerah B, 5oC lebih panas dibandingkan daerah A, dan selisih suhu daerah C dengan daerah B adalah 5oC. (Ini menunjukkan pengukuran interval sudah memiliki jarak yang tetap). Tetapi, kita tidak bisa mengatakan bahwa suhu daerah C dua kali lebih panas dibandingkan daerah A (artinya tidak bisa jadi kelipatan). Kenapa ? Karena dengan pengukuran yang lain, misalnya dengan Fahrenheit, di daerah A suhunya adalah 50oF, di daerah B = 59oF dan daerah C=68oF. Artinya, dengan pengukuran Fahrenheit, daerah C tidak dua kali lebih panas dibandingkan daerah A, dan ini terjadi karena dalam derajat Fahrenheit titik nolnya pada 32, sedangkan dalam derajat Celcius titik nolnya pada 0. (Bagi yang menginginkan cara mengkonversi Celcius ke Fahrenheit atau sebaliknya, lihat tulisan mengenai Konversi Sistem-istem Pengukuran dengan Excel).Contoh lainnya, misalnya dua orang murid, si A mendapat nilai 70 sedangkan si B mendapat nilai 35. Kita tidak bisa mengatakan si A dua kali lebih pintar dibandingkan si B. (Kenapa ?)

Skala interval ini sudah benar-benar angka dan, kita sudah dapat menerapkan semua operasi matematika serta peralatan statistik kecuali yang berdasarkan pada rasio seperti koefisien variasi.

Contoh :

Misalnya, jarak pada temperature tertentu. Jarak antara 250F dengan 500F sama dengan jarak 750F dengan 1000F. akan tetapi, skala suhu ini tidak memiliki titik nol mutlak sehingga kita tidak bisa melakukan operasi perkalian dan pembagian. Untuk itu maka ada satu lagi skala yaitu skala rasio.

Skala interval merupakan tingkat pengukuran ke tiga, dimana pemberian angka pada set objek yang memilih sifat ordinal, ditambah dengan satu sifat yang lain, yakni memberikan nilai absolute pada data/ objek yang akan diukur. Ukuran rasio ini mempunyai nilai nol (0) absolute (tidak ada nilainya).

Contoh : Angka 0 (nol) untuk thermometer memiliki makna yang sangat berpengaruh dan bukan berarti dapat diabaikan.

Interval selain memiliki sifat data ordinal, juga memiliki sifat interval antar observasi dinyatakan dalam unit pengukuran yang tetap. Contoh: temperatur.

  1. Rasio

Skala pengukuran ratio mempunyai semua karakteristik yang dipunyai oleh skala nominal, ordinal dan interval dengan kelebihan skala ini mempunyai nilai 0 (nol) empiris absolut. Nilai absoult nol tersebut terjadi pada saat ketidakhadirannya suatu karakteristik yang sedang diukur. Pengukuran ratio biasanya dalam bentuk perbandingan antara satu individu atau obyek tertentu dengan lainnya.

Contoh:

Berat Sari 35 Kg sedang berat Maya 70 Kg. Maka berat Sari dibanding dengan berat Maya sama dengan 1 dibanding 2.

Skala rasio berupa angka kuantitatif yang memiliki nilai nol mutlak.

Skala rasio adalah skala data dengan kualitas paling tinggi. Pada skala rasio, terdapat semua karakteristik skala nominal,ordinal dan skala interval ditambah dengan sifat adanya nilai nol yang bersifat mutlak. Nilai nol mutlak ini artinya adalah nilai dasar yang tidak bisa diubah meskipun menggunakan skala yang lain. Oleh karenanya, pada skala ratio, pengukuran sudah mempunyai nilai perbandingan/rasio. Rasio selain memiliki sifat data interval, skala rasio memiliki angka 0 (nol) dan perbandingan antara dua nilai mempunyai arti. Contoh : tinggi badan, berat badan, dan waktu.

Contoh :

Pengukuran-pengukuran dalam skala rasio yang sering digunakan adalah pengukuran tinggi dan berat. Misalnya berat benda A adalah 30 kg, sedangkan benda B adalah 60 kg. Maka dapat dikatakan bahwa benda B dua kali lebih berat dibandingkan benda A.

Skala rasio adalah data yang bersekala rasio hampir sma dengan data interval, yakni keduanya memiliki ketiga sifat di atas (menunjukan klasifikasi dan kedudukan subjek dalam suatu kelompok, serta sifat persamaan jarak). Data rasio berbeda dari data interval karena pertama data rasio memiliki nilai mutlak nol. Skala pengukuran yang memiliki nol mutlak sehingga dapat dilakukan operasi perkalian dan pembagian. Misalnya berat badan, tinggi badan, pendapatan dan lain sebagainya. untuk melakukan pengujian hipotesis, maka data yang kita miliki minimal berskala interval. jika data berskala nominal atau ordinal, data tersebut harus ditransfer dulu ke skala.

Contoh :

Perbandingan (rasio) antara skor-skor yang berskala rasio, 20 kg adalah 2 kali 10 kg, 15 m = 3 m x 5 m dan sebagainya.

Skala rasio Merupakan tingkat pengukuran tertinggi, dimana ukuran ini mencakup semua persyaratan pada ketiga jenis ukuran sebelumnya, ditambah dengan satu sifat yang lain, yakni ukuran ini memberikan nilai absolute pada data/objek yang akan diukur. Ukuran rasio ini mempunyai nilai nol (0).

Contoh : penghasilan pegawai 0 (berarti pegawai itu tidak menerima uang sedikitpun).

Referensi :

1.http://www.google.co.id/#q=contoh- contoh+skala+pengukuran&hl=id&sa=2&fp=a05003197864f75b

2.http://bahankuliah.wordpress.com/2009/05/14/skala-pengukuran/

3.http://id.wikipedia.org/wiki/Statistika

4.http://junaidichaniago.wordpress.com/2008/07/01/memahami-skala-skala-pengukuran/

5.http://www.stargis.geo.ugm.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=9%3Askala-pengukuran&catid=20%3Amater-kuliah&Itemid=33&limitstart=1

6.http://ta-tugasakhir.blogspot.com/2007/10/skala-pengukuran.html

7.http://apadefinisinya.blogspot.com/2008/09/skala-data-atau-skala-pengukuran.html

8.http://lintasilmu.com/?set=viewArtikel&id=86

PEMBELAJARAN MATEMATIKA SEKOLAH DASAR MENJELASKAN KONSEP MATERI PEMBELAJARAN


Nama : Christiwi Yulihandani

NIM : 08-800-0099

Prodi : PGSD-S1/ 2008 C

Kelas 1 Semester 1

Standar Kompetensi : Geometri dan Pengukuran

2. Menggunakn pengukuran waktu dan panjang

Kompetensi Dasar : 2.1 Menentukan waktu (pagi, siang, malam), hari dan jam (secara bulat)

2.2 Menentukan lama suatu kejadian berlangsung

· Kompetensi Dasar : Menentukan waktu (pagi, siang, malam), hari dan jam (secara bulat)

v Membaca Jam (secara bulat)

· Pertama yang harus dilakukan guru yaitu memperkenalkan alat pengukur waktu yang disebut jam, bisa dengan jam digital atau juga jam analog

· Memperkenalkan jam digital guru harus membawa media berupa jam digital dan dengan menjelaskan seperti berikut :

08 : 00

angka dibagian kiri menunjukkan

menit

angka dibagian

kanan menunjukkan pukul

Pada jam digital diatas waktu atau pukul langsung ditunjukkan dengan angka yang muncul jadi dapat langsung dibaca menurut angka yang muncul dan sebelah kanan menunjukkan pukul dan sebalah kiri menunjukkan menit. Jadi jam diatas menunjukkan pukul 08.00 .

· Dalam memperkenalkan dan menjelaskan materi ini guru diharapkan menggunakan media jam analog agar siswa lebih mudah memahami materi yang disampaikan.

· Memperkenalkan jam analog dapat dijelaskan dengan langkah-langkah sebagai berikut :

jarum pendek menunjukkan pukul

jarum panjang menunjukkan menit

Pada jam analog diatas terdapat bilangan 1 sampai dengan 12 dan terdapat dua jarum jam yaitu satu jarum pendek yang menunjukkan pukul dan satu jarum panjang yang menunjukkan menit. Gambar jam diatas jarum panjang menunjuk diangka 12 dan jarum pendek menunjuk diangka 6, maka jam diatas menunjukkan pukul 06.00..

· Lalu yang dilakukan guru yaitu menggunakan jam analog dan menunjukkan pada siswa dengan memutar jarum jam secara bulat dan meminta siswa untuk membacanya agar dapat mengetahui sampai mana pemahaman siswa tentang cara membaca jam analog.

· Dengan media jam analog guru juga dapat meminta beberapa siswa maju kedepan kelas untuk memutar jarum jam pada pukul tertentu secara bulat sesuai anjuran guru lalu ditunjukkan pada teman-temannya untuk membacanya barsama-sama. Hal ini dapat dilakukan secara bergiliran.

Misalnya :

pukul 03.00 pukul 11.00 pukul 02.00

v Menentukan waktu pagi, siang dan malam

· Dalam menerangkan menentukan waktu pagi, siang dan malam langkah pertama yang dilakukan guru untuk menjelaskan bagaimana kita bisa menentukan waktu itu dikatakan pagi, siang dan malam yaitu dapat dilihat dengan alat pengukur waktu dan juga disertai gambar.

· Sebelum menjelaskan dengan alat pengukur waktu, guru bisa memancing siswa untuk mengenal waktu pagi, siang dan malam dengan bertanya pada siswa yang berhubungan dengan kegiatannya sehari-hari, misalnya seperti berikut :

1.Kalian berangkat sekolah itu pagi, siang atau malam ?

2.Kalau pulang sekolah itu siang apa malam ?

3.Terus kalau belajar itu pagi apa malam ?

· Mengenai penjelasan tentang waktu pagi, siang dan malam dapat diuraikan sebagai berikut, tapi untuk kelas satu lebih baik menggunakan gambar sebagai penjelas suatu keadaan waktu agar siswa lebih mudah memahami.

· Gambar yang digunakan sebaiknya suatu kegiatan yang sehari-hari siswa lakukan. Misalnya seperti di bawah ini :

Jam diatas menunjukakan pukul tujuh pagi. Penulisan pukul 1 pagi sampai 12 siang tetap seperti yang ditunjukkan oleh jarum jam, jadi lebih dari jam 12 malam dan kurang dari jam 12 siang merupakan waktu pagi hari bisa dilihat juga terbinya matahari dan situasi atau keadaan pada gambar di atas itu terjadi pada pagi hari yaitu burung berkicau pada waktu pagi hari dan misalnya juga saat pergi ke sekolah pukul 06.00 pagi.

Jam diatas menunjukkan pukul satu siang. Jam menunjukkan pukul satu karena melampaui pukul 12 siang maka penulisannya 12 + 01 = 13, jam 13 merupakan jam 1 siang. Jadi bila lebih dari jam 12 siang itu merupakan waktu siang hari yaitu bisa dilihat juga saat matahari berada tinggi di langit dan juga cuaca mulai panas. Dan kegiatan pada gambar diatas dilakukan pada waktu siang hari yaitu saat pulang sekolah merupakan waktu siang hari.

Jam diatas menunjukkan pukul tujuh malam. Jam menunjukkan pukul 7 malam karena melampaui pukul 12 siang maka penulisannya 12 + 07 = 19, jadi jam 19 itu merupakan jam 7 malam dan berbeda dengan jam 7 pagi karena waktu sudah melampaui pukul 12 siang dan juga dapat dilihat dengan keadaan yang gelap dan matahari sudah terbenam namun muncul bulan dan bintang. Kegiatan pada gambar diatas dapat dilakukan pada malam hari yaitu persiapan tidur untuk istirahat atau belajar pada malam hari.

v Mengenal nama-nama hari

· Dalam Memperkenanalkan nama-nama hari ini merupakan materi yang membutuhkan teknik hafalan, untuk menyampaikan nama-nama hari pada siswa pertama ajaklah siswa untuk menyanyi lagu tentang nama-nama hari bersama-sama dan di ulang dua kali. Mengawali kegiatan pembelajaran dengan bernyanyi akan membuat suasana belajar menjadi lebih menarik selain itu siswa akan lebih mudah menghafal nama-nama hari.

Syairnya sebagai berikut :

nama-nama hari

senin, selasa

rabu, kamis

jumat, sabtu, minggu

itu nama-nama hari

· Untuk memberikan materi selanjutnya guru bisa menggunakan media sederhana yaitu urutan nama-nama hari dan juga guru menjelaskan beberapa pemahaman tentang hari. Penjelasan pemahaman sebagai berikut :

hari kesatu : senin

hari kedua : selasa

hari ketiga : rabu

hari keempat : kamis

hari kelima : jumat

hari keenam : sabtu

hari ketujuh : minggu

-dalam satu minggu ada tujuh hari

-dari hari ke hari berikutnya lamanya 1 hari

-dari senin ke selasa lamanya 1 hari

-dari senin ke rabu lamanya 2 hari

-dalam seminggu bisa dimulai dari hari apa saja asal berurutan

senin

selasa

rabu

kamis

jumat

sabtu

minggu

rabu

kamis

jumat

sabtu

minggu

senin

selasa


seminggu seminggu

-seminggu sering disebut dengan sepekan.

· Dalam penyampaian materi guru diharapkan membuat media sederhana yaitu tulisan nama-nama hari, dengan media tersebut guru dapat mengetahui seberapa pemahaman siswa tentang nama-nama hari, caranya dengan meminta siswa

untuk mengurutkan nama-nama hari yang semula acak-acakan dan tidak urut.

Misalnya dengan media seperti ini :

rabu

senin

selasa

senin

rabu

kamis


· Setelah siswa mampu menghafalkan nama-nama hari sesuai dengan urutan yang tepat coba minta siswa untuk menghitung sebelum dan sesudah hari tertentu, seperti ini :

Satu hari setelah hari ini adalah besok

dua hari setelah hari ini adalah lusa

Satu hari sebelum hari ini adalah kemarin

dua hari sebelum hari ini adalah kemarin lusa

Contoh :

- sekarang hari minggu, dua hari yang lalu hari . . . .

*penyelesaian :

senin selasa rabu kamis jumat sabtu minggu

Jadi cara menghitungnya mundur kebelakang 2 hari sebelum minggu dan dihitung mulai dari hari minggu. Jadi jawaban pertanyaan diatas adalah hari jumat.

- sekarang hari senin, tiga hari lagi hari . . . .

*penyelesaian :

senin selasa rabu kamis jumat sabtu minggu

Jadi cara menghitungnya dengan maju kedepan 3 hari setelah hari senin dan dihitung mulai dari hari senin. Jadi jawaban pertanyaan diatas adalah hari kamis.

- Seminggu + 2 hari = . . . . hari

*penyelesaiannya :

seminggu = 7 hari

jadi, 7 hari + 2 hari = 9 hari

- seminggu – 4 hari = . . . . hari

*penyelesaiannya :

seminggu = 7 hari

jadi, 7 hari – 4 hari = 3 hari

· Kompetensi Dasar : 2.2 Menentukan lama suatu kejadian berlangsung

v Menentukan lama suatu kegiatan berlangsung

· Untuk mengawalinya pembelajaran ini mula-mula yang bisa dilakukan guru dikelas yaitu meminta semua siswanya untuk berkedip, lalu guru menanyakan pada siswa saat melakukan kegiatan berkedip tadi lama atau sebentar.

· Lalu guru bisa menanyakan lagi pada siswa mengenai lama atau sebentar suatu kegiatan berlangsung dan pertanyaan yang ditanyakan berhubungan dengan kegiatan yang mereka lakukan sehari-hari, sebelum bartanya sedikit guru bisa memberi penjelasan bahwa, “lama dan sebentar merupakan ukuran waktu yang tidak baku, lama artinya memerlukan waktu banyak dan sebentar artinya memerlukan waktu sedikit”.

· Dan pertanyaanya yang dapat ditanyakan pada siswa dan berhubungan dengan kegiatan yang mereka lakukan setiap hari yaitu misalnya kegiatan belajar, mandi, makan, minum, tidur, bermain, menggosok gigi dan lain-lain.

· Dengan memberikan pertanyaan sehubungan dengan kegiatan yang mereka lakukan sehari-hari siswa akan paham dan tahu mana kegiatan yang memerlukan waktu sebentar dan mana kegiatan yang memerlukan waktu lama.

Misalnya seperti pernyataan kegiatan-kegiatan di bawah ini :

Membuka jendela Mengikat tali sepatu

Sebentar Lama

menggosok gigi mandi

Sebentar Lama

Belajar di sekolah Mencuci tangan

Lama Sebentar

Bermain sepak bola Menyampul buku

Lama Sebentar

· Bila sudah paham tentang lama dan sebentar lalu guru bisa menjelaskan cara menghitung berapa lama suatu kegiatan atau kejadian tersebut berlangsung.

· Disini guru bisa meminta siswa untuk menghitung berapa lama mereka belajar di sekolah dan berapa lama mereka tidur siang.

Misal : Ari berangkat ke sekolah pukul 7 dan pulang pukul 10, berapa lama Ari belajar di sekolah ?

*penyelasaian : lama Ari belajar disekolah adalah 10 – 7 = 3

Jadi lama Ari belajar di sekolah adalah 3 jam

Jadi cara menghitunya yaitu dengan pengurangan atau ambil-ambilan. Dimana waktu saat awal akan melakukan kegiatan dikurangi dengan waktu pada saat terakhir atau sudah selesai melakukan kegiatan, jadi lamanya belajar di sekolah adalah 3 jam, itu merupakan kegiatan yang memerlukan waktu yang lama.

Misal : Hani tidur siang pukul 1 dan bangun pukul 3, berapa lama Hani tidur siang ?

*penyelesaian : lama Hani tidur siang adalah 3 – 1 = 2

Jadi lama Hani tidur siang adalah 2 jam

Waktu akhir kegiatan berlangsung dikurangi waktu awal kegiatan berlangsung, jadi lamanya tidur siang adalah 2 jam, itu merupakan kegiatan atau kejadian yang berlangsung dengan waktu yang lama.

Misal : Dani Menyapu halaman pukul 6, dan menyapu halaman selama 1 jam. Pukul berapa Dani selesai menyapu halaman ?

*penyelesaian : selesai Dani menyapu halaman adalah 6 + 1 = 7

Jadi selesai Dani menyapu adalah pukul 7

Cara menghitung yaitu dengan menjumlahkan waktu saat awal melekukan kegiatan dengan lamanya saat melakukan kegiatan, dengan begitu akan tahu sampai pukul berapa kegiatan tersebut dilakukan.

· Bila sudah memberikan penjelasan tentang semua materi yang dipelajari guru bisa memberikan evaluasi untuk dapat mengetahui seberapa dalam pemahaman dan penguasaan siswa mengenai materi yang baru disampaikan dan dipelajari.

*